Bali, 17 Agustus 2021 bertepatan dengan perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, IDI Wilayah Bali meluncurkan gerakan Dokter Peduli Sesama. Banyaknya korban yang jatuh akibat pandemi menjadi salah satu latar belakang kenapa acara ini diadakan. Acara dinahkodai oleh dr. I Nyoman Rudi Susantha, Sp.OG(K) selaku Wakil Ketua IDI Wilayah Bali. Dari doa bersama lintas agama, pembacaan sumpah Hipokrates, donasi dari masing-masing IDI Cabang, seminar ilmiah, mengikuti detik-detik proklamasi serta lelang lukisan karya sejawat IDI Bali.

Selain menekuni profesi sebagai dokter baik sebagai akademisi, klinisi dan birokrasi. Tidak sedikit dokter-dokter di Bali memiliki bakat seni, diantaranya dr. Bagus Darmayasa, dr. Jembawan, Sp.OG, Dr.dr. Agus Somia, Sp.PD-KPTI, FINASIM, dr P.M Kardi Suteja, Sp.U dan dr.AA Gede Raka Arista Mas, S.Ked. Pada lelang yang berlangsung sengit dan penuh keceriaan itu lukisan Gungde Arista yang diberikan nama “Pandemi dan Budaya” berhasil mencapai penawaran tertinggi dalam lelang.

Lukisan ini menggambarkan seorang dokter perempuan yang setengah wajah dan badannya memakai APD lengkap dan setengahnya lagi memakai hiasan penari Legong. Dokter Gung De mengisahkan dalam pengantarnya sebelum lelang dilakukan, “Bahwa lukisan ini mengekspresikan kondisi Bali saat ini, dimana budaya yang merupakan salah satu daya tarik wisatawan dunia, di saat pandemi ini justru kegiatan budaya yang mengabaikan protokol kesehatan memunculkan klaster-klaster baru”, demikian ungkap Gung De sebelum turun lelang dimulai.

Lukisan ini pula mengambarkan suatu paradoks yang terjadi di lapangan dimana tingkat pencapaian vaksinasi di Bali tidak diikuti oleh penurunan kasus Covid-19. Hal ini menjadi sebuah autokritik untuk kita semua, untuk bagaimana tetap melaksanakan kegiatan budaya namun tetap mematuhi protokol kesehatan dengan ketat. Memang hal ini tidak mudah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun kita mesti berdampingan dan hidup bersama dengan virus ini dengan suatu paradigma dan gaya hidup baru.

Sebagai praktisi kesehatan dan bagian dari masyarakat Bali yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal melalui Budaya, Shastra dan Agama. Anggota IDI Bali diharapkan menjadi inspirator di lingkungan keluarga sebagai lingkungan terdekat dalam membumikan protokol kesehatan serta ikut serta meluruskan disinformasi (hoak) terkait usaha-usaha pemerintah dalam membatasi penyebaran virus. 

Keterbukaan informasi yang di dapat dengan mudah di era internet of think (IOT) ini memberi tantangan baru dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Tantangannya bukan lagi ketidaktahuan akan sesuatu hal terkait dengan pandemi, namun informasi yang terlalu banyak (overload) beredar dan tidak terangkai dengan terstruktur, sistematis dan cenderung membingungkan masyarakat.

Masyarakat yang tidak memiliki dasar pengetahuan yang cukup akan bingung dengan banyak nya informasi yang bertebaran di media sosial. Tidak jarang informasi yang di sampaikan berdasarkan eviden based kalah dengan informasi yang disampaikan secara subjektif oleh influencer yang memiliki follower yang banyak. Sehingga ada suatu fenomena informasi berdasarkan data ilmiah eviden based dengan data dari influencer (follower based).

Ini sebuah tantangan baru di era baru dan sungguh tepat IDI Wilayah Bali melakukan program peduli sesama ini sebagai awal baru dalam melakukan re-branding dan menyusun ulang arah pencapaian organisasi ke depan.  Sebagaimana arahan Bapak Presiden dalam pidatonya di hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-67, kita mesti bersama tumbuh dan Tangguh sebagai Bangsa yang berbhineka Tunggal Ika.