Peran dan profesi dokter tidak hanya sebatas di dunia klinis dan akademis. Jika kita menengok ke sejarah perjuangan bangsa tercatat peran para dokter yang tidak saja mengiktiarkan diri di dunia klinis dan akademis. Dr. Soetomo pada tahun 1908 ikut serta membidani lahirnya organisasi pergerakan pertama di Indonesia yakni Budi Utomo. Mendirikan Indonesische Studieclub (perhimpunan studi politik) yang kemudian berkembang menjadi Persatuan Bangsa Indonesia pada tahun 1930

Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo terjun memberantas wabah pes di Malang pada tahun 1910 serta di tahun 1912 mendirikan Indische Partij bersama Douwes Deker dan Suwardi Suryaningrat. Berkaca dari dua tokoh tersebut peran dokter dalam krisis yang dialami bangsa tidak dapat dipungkiri perannya dalam menentukan kebijakan bernegara. 

Setiap 100 tahun muncul wabah yang menjadi pemicu terjadinya krisis kesehatan, ekonomi dan kesadaran yang tidak dapat kita hindari. Lalu bagaimana peran dokter di masa kini? Kita perlu melakukan perenungan yang mendalam untuk menjawab hal ini. Bahwa value dasar menjadi seorang dokter pada masa awal kemerdekaan bemula dari rasa prihatin akan kondisi kesehatan masyarakat waktu itu.

Komunikasi dan interaksi sesama dokter terjadi begitu akrab tanpa sekat sebagaimana amanah dari Hipokrates yang didaulat sebagai Bapak Kedokteran. Komunikasi antara dokter dan pasien masih menempatkan pasien sebagai satu unit bio-psio-imuno-sosio-spiritual bukan sebuah unit yang terbagi-bagi berdasarkan organ yang sakit. 

Manusia diperlakukan sebagai manusia yang utuh (wholeness) untuk mengalami keadaan sehat lahir dan batin (wellness). Lebih dari 100 triliun rupiah per tahun, uang mengalir ke luar negeri dari masyarakat Indonesia menengah ke atas  yang membutuhkan layanan kesehatan secara paripurna, cepat dan berkualitas. Dengan adanya Pandemi, saat ini masyarakat kita belum bisa secara leluasa dapat kembali berobat ke luar Negeri.

Mentri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyampaikan dalam pidatonya,”Ini sebuah momentum untuk mengembangkan wisata medis dalam negeri”. Sebagai organisasi profesi terbesar di industri kesehatan, IDI mesti melakukan re-branding dan langkah-langkah nyata dalam mewujudkan wisata medis di Indonesia. 

Kita mesti akui kemampuan komunikasi menjadi pekerjaan rumah yang mesti segera diselesaikan untuk menjadi dokter yang cakap, handal dan memiliki daya saing global. Di saat yang sama diharapkan dokter Indonesia tetap mengakar kuat kepada budaya bangsa. Sebagaimana Negara China dengan Meridian Based Therapy yang telah di terima secara resmi oleh WHO, demikian juga dengan India dengan Ayur Veda. Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dengan rempah-rempah dapat mengangkat herbal medicine sebagai identitas wisata medis di kancah persaingan global.

Tidak hanya berhenti di herbal medicine atau di Bali lebih dikenal dengan Taru Pramana, penelitian dan buah pemikiran dari senior kita Prof. Dr. dr. I Gusti Ngurah Nala, MPh dalam karyanya Aksara Usadha telah memantik penelitian – penelitian di bidang seni dan budaya tidak saja sebagai tontonan namun juga tuntunan untuk menjadi sehat secara holistik.

Prof. Dr. dr. I Nyoman Adi Putra, MPh meneliti bagaimana tari baris memiliki pengaruh terhadap 10 komponen biomotor dan penurunan kadar kolesterol bila ditarikan seminggu tiga kali selama delapan minggu. Hal ini menunjukkan tari tidak saja berfungsi sebagai konsumsi seni dan sacral namun juga memiliki efek therapeutik jika dilakukan dengan takaran dan gerakan yang benar.

Kemudian penelitian dari Dr.dr. I Putu Ardiartha Griadhi, M.Fis, AIFO meneliti manfaat tari Legong untuk kesehatan, tidak saja memengaruhi 10 komponen biomotor namun juga berpengaruh terhadap neuroplastisitas sistem saraf yang sangat bermanfaat dalam  anti-aging. Hal ini semakin menegaskan bahwa ilmu kedokteran yang berkembang di dunia barat dapat dikawinkan dengan kedokteran timur melalui penelitian dan kesempatan untuk membuktikan manfaatnya secara klinis setidaknya dilingkungan rumahnya sendiri, yakni di Bali.

Pandemi mesti diatasi dengan pemikiran global namun disesuaikan dengan karakter masyarakat lokal. Untuk itu herbal medicine, dancing therapy menjadi dua hal yang dapat dikembangkan tidak saja sebagai daya tarik wisata medis namun juga diberikan kesempatan untuk menunjukkan manfaatnya dalam upaya promotif dan rehabilitatif dalam penangan Covid-19.